Optimalisasi Amal
Optimalisasi Amal di Bulan Ramadhan
Berbagai fasilitas dan kelebihan yang Allah berikan dalam Ramadhan, hendaknya memberikan motivasi bagi kita untuk melakukan amal secara optimal. Diantaranya adalah mengoptimalkan ibadah puasa kita karena kekhususan dari nilai puasa itu sendiri.
"Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta'ala berfirman, 'Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.' Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi." (H.R. Bukhari).
Meraih Taqwa Dengan Optimalisasi Amal
DR. Abdullah Nashih Ulwan memposisikan Mujahadah (optimalisasi Amal) sebagai tangga terakhir menuju derajat TAQWA. Menurutnya jalan untuk mencapai Taqwa sbb:
1. Muáhadah (Mengingat perjanjian)
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji….“ (Q.S.An Nahl:91)Yaitu perjanjian seperti yang terdapat didlm Q.S. Al A´raf:172 dan Al Fatihah:5
2. Muroqobah (Merasakan kesertaan Allah)
“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (u/ shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang2 yang sujud“ (Q.S. Asy Syura:218-219)
Dan dalam Hadist ttg Ihsan:“Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan jika memang kamu tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu“
Macam-macam Muraqobah:- Muroqobah dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, yaitu dengan Ikhlas- Muroqobah dalam kemaksiatan adalah dgn taubat, penyesalan dan meninggalkannya secara total- Muroqobah dalam hal2 yang mubah adalah dgn menjaga adab2 terhadap Allah dan bersyukur atas segala nikmat-Nya- Muroqobah dalam musibah adalah dengan ridha terhadap ketentuan-Nya serta memohon pertolongan-Nya dgn penuh kesabaran
3. Muhasabah (Interospeksi diri)
“Hai orang2 yang beriman , bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya u/ hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan“(Q.S. Al Hasyr:18)
Dari Umar al Faruq r.a. berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang pada hari yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun´´
Bagaimana mungkin bisa memperbaiki diri jika tidak ada muhasabah, tanpa muhasabah maka tidak akan ada perubahan..
4. Muáqobah (Pemberian sanksi)
“Dan dalam qishah itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang2 yang berakal, supaya kamu bertaqwa´´ (Q.S. Al Baqarah:178)
Apabila seorang mu´min menemukan kesalahan maka tidak pantas baginya untuk membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan akan mempermudah terlanggarnya kesalahan2 yang lain dan akan semakin sulit untuk meninggalkannya. Sanksi itu harus dgn sesuatu yang mubah, tidak boleh dgn sanksi yang haram
5. Mujahadah (Optimalisasi)
Mujahadah sebagaimana dalam Q.S. Al ankabuut:69“Dan orang2 yang berjihad u/ (mencari keridhaan) Kami, benar2 akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan2 Kami. Dan sesungguhNya Allah benar2 beserta orang2 yang berbuat baik´´berarti apabila seorang mu´min terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal2 sunnah serta ketaatan lainnya tepat pada waktunya maka ia harus memaksa dirinya melakukan amal2 sunnah lebih banyak dari sebelumnya.
Beramal hendaknya jangan seadanya. Bersungguh2lah dalam keadaan apapun dan dalam melakukan amalan apa saja. Dalam sebuah Hadist Qudsi:“Dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata, Rasulullah bersabda:“Sesungguhnya Allah berfirman: Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai selain dari amalan2 wajib dan seorang hambaKu senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan amalan2 sunnat, sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintai-Nya, maka Akulah yang menjadi pendengarannya dan sebagai tangan yang digunakannya untuk memegang dan kaki yang dia pakai u/ berjalan dan apabila ia memohon kepada-Ku pasti Kukabulkan, dan jika berlindung kepada-Ku pasti Ku lindungi.’’
Dengan optimalisasi Amal, seorang muslim akan memberikan amalan yang terbaik. Dan amal terbaik akan menghasilkan hasil terbaik, fiddunia wal akhirat..
Referensi:
1. Alqur’anul Kariim
2. Tarbiyah Ruhiyah, DR. Abdullah Nashih ‘Ulwan
Published on Kultum Ramadhan Menara Dea (October 5th, 2006)
Pengantin Baru Di Medan Uhud
Pengantin baru identik dengan masa-masa bahagia. Segalanya begitu indah dan mempesona. Apalagi jika sebelum menjadi pengantin, kedua mempelai telah menjaga kesucian dirinya dari pergaulan yang dapat menjerumuskannya ke lembah nista.
Ibarat orang yang berpuasa, malam pertama pengantin baru adalah saatnya berbuka puasa. Keduanya, jika sudah tiba waktunya, dianjurkan oleh Rasulullah saw untuk dilakukan dengan segera. Menyegerakan berbuka adalah buah dari upaya menahan hawa nafsu, lapar dan dahaga yang dilakukan oleh orang yang berpuasa. Begitu pula dengan pengantin baru. “Puasa†yang dilakukannya dari berbagai perbuatan yang masuk kategori mendekati zina telah mencapai berkahnya (di dunia) pada malam pengantin baru. Segala hasrat yang sebelumnya berhasil diredam dengan penuh sabar dan ikhlas telah mencapai puncak penantian. Saat itu keduanya telah halal menjadi suami istri yang siap membangun mahligai rumah tangganya dengan penuh mawaddah dan rahmah menuju keluarga sakinah.
Suatu ketika tersebutlah seorang pengantin baru bernama Hanzholah bin Abu Amir. Ia hidup dimasa perjuangan Islam bersama Rasulullah. Malam pertama, sebagaimana pengantin baru yang lain, ia luangkan bersama istri tercinta. Canda tawa dan senda gurau mewarnai sepasang kekasih yang tengah menjalin hubungan mesra. Hingga sayup-sayup terdengar olehnya ada suara yang memanggil dari kejauhan. Semakin lama suara itu semakin lantang terdengar. “Hayya alal jihad...hayya alal jihad...!â€. Ya, itu adalah panggilan untuk berangkat ke medan jihad, yang komandonya langsung berasal dari Rasulullah saw. Tanpa berpikir panjang, Hanzholah meninggalkan pangkuan istrinya kemudian mengambil pedang dan perisai untuk menyongsong jihad bersama Rasulullah dan para sahabatnya. Sang istri tentu berat melepas kepergian suami terkasih, apalagi disaat malam pertama sebagai pengantin belum habis mereka lalui. Namun dengan diiringi do’a, ia serahkan kepergian suaminya dalam rangka tugas suci kepada Yang Maha Memiliki, Allah swt.
Bersama pasukan Rasulullah, Hanzholah bertempur tanpa mengenal rasa takut. Saat memasuki kancah pertempuran, Hanzholah terus merangsek menembus barisan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat dari pasukan kaum muslimin. Sasaran utamanya adalah melumpuhkan komandan pasukan kaum musyrikin, Abu Sufyan bin Harb. Sepak terjangnya telah berhasil menyibak pasukan musuh hingga berhadapan langsung dengan Abu Sufyan. Dengan keberanian dan ketangkasan yang luar biasa, Hanzholah berhasil mendesak Abu Sufyan yang tengah berada diujung kematiannya. Namun tanpa disadarinya, dari arah belakang seorang pasukan musuh bernama Syaddad bin Aswad menikamnya dari belakang. Sang pengantin barupun, yang lebih dikenal dengan pahlawan Perang Uhud, menemui syahidnya di medan Uhud.
Setelah kecamuk perang sudah surut, Rasulullah dan para sahabat tidak menemukan jasad Hanzholah diantara jenazah para sahabat yang sedang diusung. Setelah mencari kesana kemari, mereka mendapatkannya di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan guyuran air di sana. Padahal ketika perang berkecamuk, hujan tidak turun setetespun. Para sahabatpun menjadi heran, darimanakah gerangan air yang membasahi tubuh Hanzholah tersebut. Akhirnya Rasulullah mengabarkan kepada mereka bahwa malaikat sedang memandikan jasad Hanzholah. Kemudian beliau menyuruh di antara para sahabat untuk menanyakan kepada keluarga Hanzholah tentang dirinya sebelum berangkat perang. Ternyata sang istri mengabarkan bahwa keadaan Hanzholah ketika berangkat ke medan jihad adalah dalam keadaan junub. Dari peristiwa ini, Hanzholah mendapat julukan Ghasilul Malaikat (Orang yang dimandikan malaikat).
Malam pertama perkawinannya memang belum habis ia lalui, namun kesyahidannya di medan Uhud membuat bidadari-bidadari surga sibuk memperebutkan Hanzholah untuk menjadi pasangannya di surga. Adakah para pengantin baru berikutnya yang akan mengikuti jejak Hanzholah ?Maraji' : Sirah Nabawiyah - Syaikh Shafiyyurrahman Al MubarakfuryPublished : www.sakinah.or.id on November 2000Republished : www.alhikmah.com on January 26, 2003
Menjadi Proaktif
Ketika komandan Perang Mu'tah gugur satu persatu, sepertinya kekalahan semakin dekat mnghampiri kaum muslimin. Zaid bin Haritsah tersungkur di atas medan pertempuran, syahid tertancap tombak yang dihujamkan pasukan musuh. Ja'far bin Abu Thalib yang mengambil alih bendera pasukan muslimin, juga gugur setelah sebelumnya kedua tangannya terputus ditebas pedang musuh. Benderapun diambil alih Abdullah bin Rawahah, yang juga menemui syahidnya seperti dua komandan sebelumnya. Benderapun jatuh, tak bertuan, tiada yang mengibarkan.
Perang Mu?tah merupakan salah satu perang terbesar di zaman Rasulullah. Beliau mengirim tidak kurang tiga ribu pasukan dengan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan pasukan. Jika Zaid gugur, Ja'far bin Abu Thalib yang menggantikan. Jika Ja?far gugur, pimpinan pasukan diserahkan pada Abdullah bin Rawahah. Itulah pesan Rasulullah sebelum keberangkatan pasukan muslimin menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di dunia saat itu, Romawi.
Kebesaran pasukan Romawi selama ini hanya terdengar oleh telinga kaum muslimin. Ketika mereka mengetahui ada dua ratus ribu prajurit yang akan dihadapi, kebimbangan meliputi hati mereka. Bagaimana mungkin tiga ribu prajurit menghadapi dua ratus ribu prajurit musuh? Merekapun sepakat untuk mengirim surat pada Rasulullah dengan maksud mengabarkan jumlah pasukan musuh dan berharap datangnya bala bantuan atau menunggu instruksi berikutnya. Namun sebelum surat kebimbangan itu dikirim, Abdullah bin Rawahah berdiri dan bersuara lantang ditengah pasukan kaum muslimin yang tengah diliputi keraguan, ?Wahai semua orang, Demi Allah, apa yang kalian sukai dalam kepergian ini justru merupakan sesuatu yang kita cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang dengan manusia karena jumlah, kekuatan dan banyaknya personil. Kita tidak memerangi mereka melainkan karena agama ini, yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Maka berangkatlah, karena disana hanya ada salah satu dari dua kebaikan, entah kemenangan atau kesyahidan..? Letupan kata-kata Abdullah bin Rawahah membuat semangat pasukan muslimin kembali terpancar, menatap pasukan musuh dengan penuh keberanian.
Kembali ke kancah perang, tidak sedikit pasukan muslimin yang mengira bahwa bendera yang tak bertuan itu akan jatuh ke tangan musuh. Dalam tradisi perang saat itu, jatuhnya bendera pasukan muslimin ketangan musuh adalah pertanda kekalahan. Disaat yang sangat genting itulah muncul seorang dari pasukan muslimin berinisiatif mengambil bendera untuk diserahkan kepada komandan perang. Masalahnya, ketiga komandan perang yang ditunjuk Rasulullah telah menemui syahid. Dalam kecamuk perang yang sebegitu dahsyat, tidak mungkin untuk berembuk dengan anggota pasukan yang lain guna mengangkat seorang diantara mereka sebagai komandan pasukan muslimin. Akhirnya lelaki yang bernama Tsabit bin Arqam itu berpikir cepat dan taktis untuk menyerahkan bendera itu kepada Pedang Allah, Khalid bin Walid. Dari Madinah, dengan perantaraan wahyu, Rasulullah menceritakan situasi perang di Mu?tah kepada para sahabat disana, ?Zaid memegang bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja?far mengambilnya dan diapun gugur. Kemudian Abdullah bin Rawahah mengambilnya dan diapun gugur. Hingga salah satu dari pedang-pedang Allah mengambil bendera itu dan akhirnya Allah memberi kemenangan pada mereka..?
Dengan kepiawaiannya, Khalid menerapkan taktik perang dengan merubah komposisisi pasukan. Mereka yang berada di front depan, ditukar dengan front belakang. Posisi sayap kanan dialihkan ke sayap kiri, begitu pula sebaliknya. Pola ini telah menyebabkan pasukan Romawi berpikir bahwa bala bantuan pasukan muslimin telah datang karena mereka menghadapi pasukan yang berbeda. Walhasil, pasukan muslimin kembali ke Madinah dengan kepala tegak..
Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah Perang Mu'tah adalah tampilnya jiwa-jiwa yang proaktif. Para pahlawan Perang Mu'tah itu telah mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang sesungguhnya. Bukan sekedar menghindarkan diri dari sikap lemah semangat (pasif), bukan pula proaktif yang asal asalan.
Abdullah bin Rawahah mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang berasal dari keyakinan yang kuat. Dia memang tidak ikut menikmati udara kemenangan bersama pasukan yang lain. Namun inisiatifnya untuk mengangkat spirit pasukan ketika kebimbangan dan rasa takut meliputi mereka, telah menghalangi langkah mundur pasukan sebelum memasuki medan perang.
Tsabit bin Arqam mengajarkan kepada kita sikap proaktif yang mengacu pada kecepatan dan ketepatan. Gerak cepatnya mengambil bendera yang nyaris jatuh ke tangan musuh, dan ketepatannya menyerahkan bendera itu kepada seorang Khalid, telah mampu menghindari pasukan muslimin dari kekalahan.
Khalid bin Walid telah mengajarkan kepada kita sikap proaktif dengan memunculkan ide yang cemerlang, untuk kemudian direalisasikan dengan penuh perhitungan. Dalam kondisi yang sangat sulit dan terdesak, taktiknya telah membuat ciut pasukan Romawi. Sikap-sikap mereka yang proaktif itu mampu mengangkat harga diri kaum muslimin di mata bangsa Arab, bahkan dunia. Keberhasilan menghadapi pasukan adikuasa Romawi, menempatkan kaum muslimin sebagai kekuatan yang sangat diperhitungkan di seantero bumi.
Mari menjadi muslim proaktif....
Maraji' : Ar Rahiqul Makhtum, MubarakfuryPublished : www.alhikmah.com on Des 4th, 2003
Nuansa Kebersamaan
Adakah di antara kita yang pernah bertanya, apa sebenarnya rahasia di balik meningkatnya berbagai amaliyah di bulan Ramadhan? Apa yang menyebabkan umat islam begitu bersemangat menghiasi bulan Ramadhan, baik di masjid, rumah, kantor bahkan stasiun televisi sekalipun?
Apa yang membuat jutaan atau mungkin milyaran umat manusia di seluruh dunia rela menahan lapar dan dahaga selama kurang lebih separuh waktu dalam 24 jam? Energi apa gerangan yang telah menyebabkan itu semua?
Tidak sulit untuk menjawab bahwa itu semua adalah karena keistimewaan yg diberikan Allah terhadap hambanya melalui Ramadhan. Bulan yang di dalamnya berisi beragam fasilitas yang tidak didapati di bulan-bulan yang lain. Mulai dari balasan pahala yang berlipat ganda hingga malam yang lebih baik dari seribu bulan, laylatul qadar. Namun bukan hanya itu jawaban yang kita harapkan, karena hal itu hanya terdapat pada bulan Ramadhan. Jika pun itu kuncinya, lalu mengapa suatu amalan yang memiliki ganjaran surga belum mampu menjadi aktifitas kebanyakan umat. Adakah balasan yang lebih menggiurkan disamping surganya Allah?
'Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar.' (QS As Shaff : 10-12)
Lalu rahasia apa lagi yang belum terungkap dibalik geliat aktifitas ramadhan, sehingga kita dapat menerapkannya pula dibulan-bulan lainnya pasca Ramadhan.
Satu rahasia yang sering luput dari perhatian kita adalah semangat kebersamaan. Adanya kebersamaan sangat berdampak kepada semangat untuk melakukan berbagai aktifitas di bulan Ramadhan. Mulai sahur, sholat shubuh, shaum, tilawah qur'an, buka puasa, hingga qiyamul lail di lakukan secara bersama-sama. Bahkan karena kebersamaan itu, mereka yang memang tidak sedang berpuasa 'terpaksa' bersikap seperti orang yang sedang berpuasa. Ada rasa malu yang menghinggapi bila tidak melakukan suatu kebaikan yang sedang dilakukan oleh orang banyak. Rasa malu itulah yang kita butuhkan, sebagaimana seorang sahabat nabi yang harus bersembunyi ketika bertemu jama'ah shalat ashar yang hendak pulang karena dia merasa malu diketahui ketinggalan shalat berjama'ah. Bukan malu karena riya' tapi malu karena tidak bisa bersama-sama mereka menghadap-Nya.
Lailatul qadar memang hanya milik Ramadhan, namun kebersamaan bukan hanya milik Ramadhan. Namun sulit untuk menciptakan kebersamaan yang kolektif, jika kita tidak memulainya dari diri kita sendiri, keluarga dan orang-orang yang ada didekat kita. Jika kita berada dirumah, ajaklah mereka untuk qiyamul lail, sahur bersama, shaum sunnah bersama dan buka puasa bersama. Jika kita tinggal bersama bererapa teman dalam satu kost, ajaklah mereka selalu sholat tepat waktu di mesjid. Jika kita berada di kantor, ajaklah rekan-rekan kita untuk shalat berjamaah atau tilawah qur'an sejenak sambil mengisi waktu istirahat. Dalam hidup bertetangga, ajaklah orang-orang dilingkungan rumah kita untuk menghidupkan masjid terdekat atau pengajian RT misalnya.
Sungguh, jika nuansa kebersamaan itu telah dirasakan dimana-mana, maka akan tampak wujud Ramadhan dengan bentuk yang berbeda. Kita akan mendapatkan ruh Ramadhan di bulan Syawal hingga Sya'ban tahun berikutnya. Dan kita tidak perlu sekedar bernostalgia dengan Ramadhan, karena semangat Ramadhan tetap hadir dalam setiap amaliyah kita, yaitu semangat kebersamaan. Bukankah kita ingin masuk surga secara bersama-sama?
'Wasiiqalladzinattaqou rabbakum ilal jannati zumara..' 'Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb nya dibawa ke dalam surga secara bersama-sama...' (QS Azzumar:73)
wallohu a'lampublished : www.alhikmah.com on December 28th, 2002
Risalah Malam
Malam semakin larut. Hujan yang turun sejak senja tadi, menyisakan rintik-rintik kecil. Menambah sunyi sang malam. Menambah dingin angin malam. Membuat cahya rembulan menjadi remang. Sembunyi di balik kerumunan awan. Meninabobokan anak-cucu adam. Lelap dalam tidurnya. Hangat dalam selimutnya. Terbuai dalam mimpinya. Bergumam dalam igaunya. Suasana yang pernah digambarkan Al Ghazali dalam petikan syairnya. Di akhir malam yang makin kelam
Di waktu tenang seisi alam
Aku berbaring di atas ranjang
Bagaikan benda yang melayang
Malam memasuki separuh masa. Sang purnama mulai berani manampakkan diri. Juga bintang-bintang. Kerlip silih berganti. Menghilangkan kepekatan malam. Memberikan kehidupan. Sebaik-baik kehidupan. Adakah anak-cucu adam yang tersadar? Bangun dari tidurnya? Merasakan kelezatannya? Ataukah mereka cukup puas dengan mimpinya. Hingga tak mendengar panggilan Rabb-Nya.
Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. (QS Al Muzzamil : 1-4)
Panggilan itu terdengar sayup. Namun menyusup dalam hembusan angin malam. Menemukan seorang yang menantinya. Yang mengharapkan pertemuan itu. Tanpa dialog panjang, bergegas ia bangkit. Dengan kerinduan yang memuncak. Ia bergegas membersihkan diri. Kemudian larut dalam munajatnya. Mencurahkan isi hati. Menyesali kealpaan diri. Mengharapkan ampunan Rabbi.
'...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir'. (QS Al Baqarah : 286)
Ayat demi ayat dalam kitab suci mengalir. Dari lisannya yang lembut. Dari suara hatinya yang bening. Memberikan ketenangan jiwa. Menciptakan kepekaan bathin. Membuang jauh urusan duniawi. Melebur dalam firman-firmanNya yang agung. Hingga suatu saat tubuhnya berguncang hebat. Diiringi oleh isak tangis yang mendalam. Tatkala sekelebat bayangan neraka jahannam nampak di hadapannya...
Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya. (Dikatakan kepada mereka): 'Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya'. (QS At Thur : 11-14)
Jahannam... mungkin tiada yang mampu membayangkan pedih siksanya. Termasuk dirinya. Namun jika membayangkan kotornya hati, lumuran dosa, dan lembaran dusta yang pernah diperbuat, siapa yang menjamin tidak akan menjadi penghuninya ?
Untaian kalam ilahi terus mengalir. Isaknya mulai reda. Bahkan tidak tampak lagi. Semburat senyum tipis kini menghias wajahnya yang teduh. Seolah ia sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa. Andai kita tahu apa yang tengah dirasakannya. Namun hanya dia dan Rabbnya yang tahu. Hanya rahasia kecil yang kita tahu. Bahwa kelezatan yang ia rasakan terkait dengan ayat Qur'an yang sedang dilantunkannya...
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): 'Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan', mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS At Thur : 17-20)
Surga... ingin rasanya menjadi penghunimu. Tapi layakkah? Makan dan minum dengan hidangan yang terlezat dan selalu tersedia? Bersenda gurau dengan bidadari-bidadari nan cantik bermata jeli?
Malam mulai memasuki penghujungnya. Rembulan memberi isyarat untuk berpamitan. Malam itu Sang penanti benar-benar menemukan penantiannya. Dan akan selalu menantikannya kembali. Saat-saat terindah dengan Sang Rabbi pun harus berlalu. Namun ia memiliki energi baru. Untuk membuka lembaran pagi yang baru. Untuk menjalani tugasnya sebagai khalifah bumi. Mencari nafkah untuk anak isteri. Mengajak umat ke jalan ilahi.
Tatkala bangkit dari tikar panjangnya, tampak sesosok wanita di belakangnya. Sang istri tercinta. Yang sejak tadi menyertainya. Dalam isak tangisnya. Dalam semburat senyumnya. Wanita itu menggapai tangannya. Mencium erat jemarinya. Menatapnya lekat. Penuh cinta. Sarat makna.
Bidadari dunia telah menyambutnya, dan bidadari surga tengah menantinya...published: www.alhikmah.com on December 31, 2002